Sabtu, 03 Desember 2011

OBSERVASI PENUMPANG KRL


LAPORAN OBSERVASI
Latar Belakang
Aman, nyaman dan harga terjangkau adalah hal mutlak yang harus dipenuhi oleh penyedia jasa transportasi. Jasa transportasi yang dimaksudkan seperti bus, kereta rangkaian listrik (KRL), pesawat terbang dan kapal laut.
Kereta adalah sarana transportasi yang dianggap dapat menjamah semua kalangan, apakah itu kalangan menengah keatas ataupun menengah kebawah. Namun keamanan, kenyamanan tak lagi menjadi prioritas pengguna jasa tranportasi ini khususnya diwilayah jabodetabek.
Bagi mereka harga terjangkau dan cepat sampai tujuan adalah hal yang diutamakan. Penuhnya kereta pada saat jam sibuk, tidak menjadi penghalang bagi mereka yang menggunakannya. Akibatnya, atap keretapun menjadi tempat yang mungkin “nyaman”. Peraturan-peraturan yang melanggar hal tersebut dihiraukan.
Bukan hanya itu, tidak sedikit yang menjadi korban pelecehan seksual ataupun korban criminal dalam kereta. Banyak catatan criminal yang terjadi di kereta dan kenyamanan bukan lagi menjadi prioritas penumpang dan penyedia dan hanya sebagai impian
Landasan Teori
Rasa aman (need for self security) menurut Maslow dalam E. Koeswara (1986: 120-121) sebagai kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian, dan keteraturan dari keadaan lingkungannya. Penjelasan mengenai konsep motivasi manusia menurut Abraham Maslow mengacu pada lima kebutuhan pokok yang disusun secara hirarkis. Tata lima tingkatan motivasi secara secara hierarkis ini adalah
     Kebutuhan yang bersifat fisiologis (lahiriyah). Manifestasi kebutuhan ini terlihat dalam tiga hal pokok, sandang, pangan dan papan. Bagi karyawan, kebutuhan akan gaji, uang lembur, perangsang, hadiah-hadiah dan fasilitas lainnya seperti rumah, kendaraan dll. Menjadi motif dasar dari seseorang mau bekerja, menjadi efektif dan dapat memberikan produktivitas yang tinggi bagi organisasi.
• Kebutuhan keamanan dan ke-selamatan kerja (Safety Needs) Kebutuhan ini mengarah kepada rasa keamanan, ketentraman dan jaminan seseorang dalam kedudukannya, jabatan-nya, wewenangnya dan tanggung jawabnya sebagai karyawan. Dia dapat bekerja dengan antusias dan penuh produktivitas bila dirasakan adanya jaminan formal atas kedudukan dan wewenangnya.
• Kebutuhan sosial (Social Needs). Kebutuhan akan kasih sayang dan bersahabat (kerjasama) dalam kelompok kerja atau antar kelompok. Kebutuhan akan diikutsertakan, mening-katkan relasi dengan pihak-pihak yang diperlukan dan tumbuhnya rasa kebersamaan termasuk adanya sense of belonging dalam organisasi.
      Kebutuhan akan prestasi (Esteem Needs). Kebutuhan akan kedudukan dan promosi dibidang kepegawaian. Kebutuhan akan simbul-simbul dalam statusnya se¬seorang serta prestise yang ditampilkannya.

      Kebutuhan mempertinggi kapisitas kerja (Self actualization).
Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Dalam motivasi kerja pada tingkat ini diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang lebih tinggi.
Teori Maslow tentang motivasi secara mutlak menunjukkan perwujudan diri sebagai pemenuhan (pemuasan) kebutuhan yang bercirikan pertumbuhan dan pengembangan individu. Perilaku yang ditimbulkannya dapat dimotivasikan oleh manajer dan diarahkan sebagai subjek-subjek yang berperan. Dorongan yang dirangsang ataupun tidak, harus tumbuh sebagai subjek yang memenuhi kebutuhannya masing-masing yang harus dicapainya dan sekaligus selaku subjek yang mencapai hasil untuk sasaran-sasaran organisasi.



Gambar-gambar observasi
 
Gambar 1 dan 2
Pada gambar 1 dan 2  terlihat beberapa orang sedang menunggu keadaan kereta dan ada beberapa orang yang tampak berdiri karena tak kebagian tempat duduk bahkan ada yang duduk dipinggiran pagar stasiun karena tidak kedapatan bangku kosong. Tampak wanita yang berkerudng putih tersebut menunggu dengan gelisah, sesekali ia melihat jam.
 
Gambar 3 dan 4
Pada gambar 3 tampak situasi yang menunjukkan keadaan kereta AC yang menuju arah bogor pada sore hari yang sedang terhenti di stasiun pondok cina. Pada situasi ini terlihat penumpang yang ingin turun terlihat berdesakan sehingga penumpang yang paling depan hamper terjatuh dan penumpang yang ingin naik pun terlihat sedikit karena mereka lebih banyak ingin menaiki kereta ekonomi biasa karena harganya yang terjangkau. Pada gambar 4 terlihat penumpang yang sedang menunggu kereta menjadi berdiri karena tempat duduk yang tersedia tidak memadai.karena pada saat tersebut hujan turun dan atap stasiun bocor.

 
Gambar 5 dan 6
Terlihat difoto ini keadaan stasiun dengan fasilitas tidak  memadai,para penumpang KRL menunggu cukup lama kereta datang,bahkan setelah kereta datangpun keadan kereta tersebut tidak layak disebut angkutan umum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat karena jumlah penumpang lebih banyak dari ruang yang ada sehingga para penumpang bertumpuk memenuhi semua gerbong kereta ekonomi yang datang itu.bahkan tak sedikit penumpang yang naik keatap kereta karena tidak mendapat ruang didalam gerbong padahal sedang turun hujan deras dan tak hanya itu beberapa penumpang memenuhi kepala KRL Ekonomi itu bahkan ada beberapa penumpang yang bergelantungan karena kapasitas penumpang lebih banyak dari pada kapasitas ruang yang ada.
 
Perbandingan KRL arah Bogor dan Jakarta pada jam-jam sibuk
Gambar 7 dan 8
Pemandangan yang sangat miris antara kereta jurusan Jakarta-bogor dengan kereta jurusan bogor-jakarta. Tampak di gambar 7 kereta yang sudah penuh pun masih ada penumpang yang berusaha untuk masuk walau ia tahu bahwa akan sangat tidak nyaman, sedangkan di gambar 8 tampak kereta yang sangat lengang hanya ada beberapa penumpang saja di tiap gerbongnya di KRL arah Jakarta. Namun sebaliknya pada jam sibuk di pagi hari KRL arah Jakarta terlihat sangat penuh dan KRL arah Bogor terlihat tidak terlalu padat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar