LAPORAN OBSERVASI
Latar Belakang
Aman,
nyaman dan harga terjangkau adalah hal mutlak yang harus dipenuhi oleh penyedia
jasa transportasi. Jasa transportasi yang dimaksudkan seperti bus, kereta
rangkaian listrik (KRL), pesawat terbang dan kapal laut.
Kereta
adalah sarana transportasi yang dianggap dapat menjamah semua kalangan, apakah
itu kalangan menengah keatas ataupun menengah kebawah. Namun keamanan,
kenyamanan tak lagi menjadi prioritas pengguna jasa tranportasi ini khususnya
diwilayah jabodetabek.
Bagi
mereka harga terjangkau dan cepat sampai tujuan adalah hal yang diutamakan.
Penuhnya kereta pada saat jam sibuk, tidak menjadi penghalang bagi mereka yang
menggunakannya. Akibatnya, atap keretapun menjadi tempat yang mungkin “nyaman”.
Peraturan-peraturan yang melanggar hal tersebut dihiraukan.
Bukan
hanya itu, tidak sedikit yang menjadi korban pelecehan seksual ataupun korban
criminal dalam kereta. Banyak catatan criminal yang terjadi di kereta dan
kenyamanan bukan lagi menjadi prioritas penumpang dan penyedia dan hanya
sebagai impian
Landasan Teori
Rasa
aman (need for self security) menurut Maslow dalam E. Koeswara (1986: 120-121)
sebagai kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman,
kepastian, dan keteraturan dari keadaan lingkungannya. Penjelasan mengenai
konsep motivasi manusia menurut Abraham Maslow mengacu pada lima kebutuhan
pokok yang disusun secara hirarkis. Tata lima tingkatan motivasi secara secara
hierarkis ini adalah
• Kebutuhan
yang bersifat fisiologis (lahiriyah). Manifestasi kebutuhan ini terlihat dalam
tiga hal pokok, sandang, pangan dan papan. Bagi karyawan, kebutuhan akan gaji,
uang lembur, perangsang, hadiah-hadiah dan fasilitas lainnya seperti rumah,
kendaraan dll. Menjadi motif dasar dari seseorang mau bekerja, menjadi efektif
dan dapat memberikan produktivitas yang tinggi bagi organisasi.
• Kebutuhan keamanan dan
ke-selamatan kerja (Safety Needs) Kebutuhan ini mengarah kepada rasa keamanan,
ketentraman dan jaminan seseorang dalam kedudukannya, jabatan-nya, wewenangnya
dan tanggung jawabnya sebagai karyawan. Dia dapat bekerja dengan antusias dan
penuh produktivitas bila dirasakan adanya jaminan formal atas kedudukan dan
wewenangnya.
• Kebutuhan sosial (Social Needs).
Kebutuhan akan kasih sayang dan bersahabat (kerjasama) dalam kelompok kerja
atau antar kelompok. Kebutuhan akan diikutsertakan, mening-katkan relasi dengan
pihak-pihak yang diperlukan dan tumbuhnya rasa kebersamaan termasuk adanya
sense of belonging dalam organisasi.
• Kebutuhan
akan prestasi (Esteem Needs). Kebutuhan akan kedudukan dan promosi dibidang
kepegawaian. Kebutuhan akan simbul-simbul dalam statusnya se¬seorang serta
prestise yang ditampilkannya.
• Kebutuhan
mempertinggi kapisitas kerja (Self actualization).
Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Dalam motivasi kerja pada tingkat ini diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang lebih tinggi.
Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Dalam motivasi kerja pada tingkat ini diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang lebih tinggi.
Teori
Maslow tentang motivasi secara mutlak menunjukkan perwujudan diri sebagai
pemenuhan (pemuasan) kebutuhan yang bercirikan pertumbuhan dan pengembangan
individu. Perilaku yang ditimbulkannya dapat dimotivasikan oleh manajer dan
diarahkan sebagai subjek-subjek yang berperan. Dorongan yang dirangsang ataupun
tidak, harus tumbuh sebagai subjek yang memenuhi kebutuhannya masing-masing
yang harus dicapainya dan sekaligus selaku subjek yang mencapai hasil untuk
sasaran-sasaran organisasi.
Gambar-gambar observasi

Gambar 1 dan 2
Pada gambar 1
dan 2 terlihat beberapa orang sedang menunggu
keadaan kereta dan ada beberapa orang yang tampak berdiri karena tak kebagian
tempat duduk bahkan ada yang duduk dipinggiran pagar stasiun karena tidak
kedapatan bangku kosong. Tampak wanita yang berkerudng putih tersebut menunggu
dengan gelisah, sesekali ia melihat jam.

Gambar 3 dan 4
Pada gambar 3
tampak situasi yang menunjukkan keadaan kereta AC yang menuju arah bogor pada
sore hari yang sedang terhenti di stasiun pondok cina. Pada situasi ini
terlihat penumpang yang ingin turun terlihat berdesakan sehingga penumpang yang
paling depan hamper terjatuh dan penumpang yang ingin naik pun terlihat sedikit
karena mereka lebih banyak ingin menaiki kereta ekonomi biasa karena harganya
yang terjangkau. Pada gambar 4 terlihat penumpang yang sedang menunggu kereta
menjadi berdiri karena tempat duduk yang tersedia tidak memadai.karena pada
saat tersebut hujan turun dan atap stasiun bocor.

Gambar 5 dan 6
Terlihat difoto ini keadaan stasiun dengan fasilitas tidak memadai,para penumpang KRL menunggu cukup
lama kereta datang,bahkan setelah kereta datangpun keadan kereta tersebut tidak
layak disebut angkutan umum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat karena jumlah
penumpang lebih banyak dari ruang yang ada sehingga para penumpang bertumpuk
memenuhi semua gerbong kereta ekonomi yang datang itu.bahkan tak sedikit
penumpang yang naik keatap kereta karena tidak mendapat ruang didalam gerbong
padahal sedang turun hujan deras dan tak hanya itu beberapa penumpang memenuhi
kepala KRL Ekonomi itu bahkan ada beberapa penumpang yang bergelantungan karena
kapasitas penumpang lebih banyak dari pada kapasitas ruang yang ada.

Perbandingan KRL arah Bogor dan Jakarta pada jam-jam sibuk
Gambar 7 dan 8
Pemandangan yang
sangat miris antara kereta jurusan Jakarta-bogor dengan kereta jurusan
bogor-jakarta. Tampak di gambar 7 kereta yang sudah penuh pun masih ada
penumpang yang berusaha untuk masuk walau ia tahu bahwa akan sangat tidak
nyaman, sedangkan di gambar 8 tampak kereta yang sangat lengang hanya ada
beberapa penumpang saja di tiap gerbongnya di KRL arah Jakarta. Namun
sebaliknya pada jam sibuk di pagi hari KRL arah Jakarta terlihat sangat penuh
dan KRL arah Bogor terlihat tidak terlalu padat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar